Akhirnya kemarin backpacker-an
ke Bali, Lombok, Gili Trawangan.
Ga direncanain terlalu lama
Spontanitas aja.
Karena mindset dari awal udah back-pack,
rasa-rasanya badan kayak udah disetting secara otomatis
buat menghadapi kemungkinan terburuk.
Tapi finally ga ada yang buruk, semua asik..
bahkan keren..
Ternyata key wordnya cuma satu..
Cara menghadapi semua yang menghadang
adalah dengan sikap yang "Fleksibel"
Bag-packer = Fleksibel
Melalui berbagai kemungkinan dengan berbagai keterbatasan
apapun bisa aja terjadi.
Misalnya aja, harus jalan pas ga ada kendaraan.
Ya, gak masalah juga.
Kalo capek ya berhenti...
Beda banget kayak biasanya kalo ada event yang on schedule
Kamar belum jelas pasti ribut,
Shuttle bus AC nya kurang dingin bakalan protes..
Ekspetasi emang bikin sakit kadang-kadang..
Kalau yang terjadi enggak sesuai,
Fokus pun bergeser..
Bukannya solve the problem,
Tapi demo bertubi abisin energi...
Rasanya aneh juga bisa mikir begini,
Padahal sehari-hari masih manja..
Ini itu maunya beres,
Eniwei, positif thinking adalah kekuatan,
Humor juga pilihan yang gak pernah basi..
Dan meski fleksibel, bagpacker tetep punya fokus yang jelas
menuju suatu tempat yang diimpikan,
Tentunya dengan cara yang menyenangkan...
Cara yang dewasa...
Backpacker = Fleksibel = Fokus
Sabtu, 29 September 2012
Jumat, 15 Juni 2012
TANYAKAN
"Selidikilah hatimu sendiri dengan tekun, karena dari dalamnya mengalir persoalan kehidupan"
Akhir-akhir ini aku membiasakan diri
untuk bertanya
ke diri sendiri
sebenernya maunya apa sih?
(pada keadaan menimbang-nimbang, antara pilihan dan resiko, antara perasaan dan logika, antara keinginan dan kemampuan, antara ketentuan dan ketidakstabilan )
Akhir-akhir ini aku membiasakan diri
untuk bertanya
ke diri sendiri
sebenernya maunya apa sih?
(pada keadaan menimbang-nimbang, antara pilihan dan resiko, antara perasaan dan logika, antara keinginan dan kemampuan, antara ketentuan dan ketidakstabilan )
Selasa, 12 Juni 2012
MANUSIA SERAGAM
Sekarang ini kita menjumpai individu yang berperilaku seperti manusia yang bergerak otomatis, yang tidak tahu atau tidak mengerti dirinya sendiri, dan satu-satunya orang yang dikenalnya adalah orang seperti yang seharusnya, yang obrolan tanpa maknanya menggantikan percakapan yang komunikatif, yang senyum sintesisnya menggantikan tawa yang asli, dan yang perasaan putus asanya menggantikan rasa nyeri yang asli.
Dua pernyataan dapat disampaikan sehubungan dengan individu ini. Satu adalah bahwa ia menderita kerusakan spontanitas dan individualitas yang kelihatannya tidak dapat disembuhkan. Sekaligus dapat dikatakan bahwa ia pada dasarnya tidak berbeda dengan jutaan orang seperti kita yang berjalan di muka bumi. (Erich Fromm)
MEMUJA LAKI-LAKI
gak tau kenapa perempuan jarang merayu laki-laki
mungkin masih dirasa tabu kali ya..
persoalan merayu justru semacam keindahan
dan sayangnya emang bener,
sebagian besar lagu yang aku denger cenderung maskulin
misalnya aja yang pop nih
"pejantan tangguh"nya Sheila on Seven
"papa rock and roll" nya The Dance Company
Apalagi Sandy Sandoro...
Nah yang paling bisa bikin aku kepikiran berhari-hari adalah
jelas sang Iwan Fals
Anjriit..
Bayangin aja dia nyanyiin lagunya "Denting Piano" ,
"Kumenanti Seorang Kekasih"
Terus "Mata Indah Bola Pingpong"
aku sebagai seorang perempuan jadi tertarik
untuk merayu laki-laki juga dong..
Ahaha.. logika yang aneh
maka ga perlu pake logika deh mikirnya
aku cuman ngerasa,
jangan-jangan emang iya sebagian besar penulis lagu emang laki-laki
dan perempuan emang merasa senang dinyanyiin.. hahaha...
entah kapan, nanti atau besok...
aku juga pengen bikin lagu yang bisa ngerayu,
ngrayunya sampe matiiih (hahahha)
trus pas sebelum manggung,
aku bilang gini nih
"ehm, jadi siapa yang mau aku rayu malam ini?"
bhahaha...
mungkin aku akan berusaha mengungkangkapkan
laki-laki dari sudut pandangku seperti apa
mungkin dipostingan berikutnya,,, aku akan memuja laki-laki... :)
mungkin masih dirasa tabu kali ya..
persoalan merayu justru semacam keindahan
dan sayangnya emang bener,
sebagian besar lagu yang aku denger cenderung maskulin
misalnya aja yang pop nih
"pejantan tangguh"nya Sheila on Seven
"papa rock and roll" nya The Dance Company
Apalagi Sandy Sandoro...
Nah yang paling bisa bikin aku kepikiran berhari-hari adalah
jelas sang Iwan Fals
Anjriit..
Bayangin aja dia nyanyiin lagunya "Denting Piano" ,
"Kumenanti Seorang Kekasih"
Terus "Mata Indah Bola Pingpong"
aku sebagai seorang perempuan jadi tertarik
untuk merayu laki-laki juga dong..
Ahaha.. logika yang aneh
maka ga perlu pake logika deh mikirnya
aku cuman ngerasa,
jangan-jangan emang iya sebagian besar penulis lagu emang laki-laki
dan perempuan emang merasa senang dinyanyiin.. hahaha...
entah kapan, nanti atau besok...
aku juga pengen bikin lagu yang bisa ngerayu,
ngrayunya sampe matiiih (hahahha)
trus pas sebelum manggung,
aku bilang gini nih
"ehm, jadi siapa yang mau aku rayu malam ini?"
bhahaha...
mungkin aku akan berusaha mengungkangkapkan
laki-laki dari sudut pandangku seperti apa
mungkin dipostingan berikutnya,,, aku akan memuja laki-laki... :)
Minggu, 20 Mei 2012
Rahasia Movie
Kali ini aku dapet kesempatan buat belajar bikin film.
Bersama mentor yang asik setingkat B.W Purbanegara.
Waktu itu aku dapet naskah tahap 1 dari Farida Susanti yang juga penulis novel.
Seiring waktu berjalan, kita banyak ngubah alur cerita, tujuannya ya bikin cerita jadi lebih efektif.
Disini aku belajar banget gimana caranya melakukan syuting efektif,
yang harapannya membantu cerita jadi nggak bertele-tele dan tentunya nggak over budget.
Over all terlepas dari urusan teknis, cerita ini emang "gue banget" .
At least aku menerjemahkan cerita ini dengan caraku.
Cerita "Rahasia" ini mengisahkan tentang pertemuan seorang anak perempuan dan bapak tua di kereta dalam perjalanan dari Jogja menuju Surabaya.
Perjalanan itu menjadi sebuah kesempatan untuk saling mengungkapkan rahasia yang selama ini mereka pendam.
Please watching : "RAHASIA" movie.
Buat aku, setiap orang berhak mempunyai rahasia dalam hidupnya.
Entah itu anak-anak atau orang tua.
mungkin bila dianalogikan seperti kotak hitam di pesawat.
Isinya rekaman dan disimpan. Ruang seperti itu juga ada pada benang-benang syaraf memori di otak .
Kita bisa menyimpannya sampai merasa ingin mengungkapkan kepada orang lain. Atau justru harus menunggu hantaman keras baru bisa dilihat orang lain seperti kotak hitam. wew...
Seandainya semua pikiran bisa ditebak, mungkin kita bisa menemukan banyak cerita unik yg muncul dari apa yang ada dibenak orang.
Sayangnya menjadi tau juga bukan selalu jadi pilihan yang tepat apabila ternyata rahasia yang disimpan bukanlah berita baik.
Bersama mentor yang asik setingkat B.W Purbanegara.
Waktu itu aku dapet naskah tahap 1 dari Farida Susanti yang juga penulis novel.
Seiring waktu berjalan, kita banyak ngubah alur cerita, tujuannya ya bikin cerita jadi lebih efektif.
Disini aku belajar banget gimana caranya melakukan syuting efektif,
yang harapannya membantu cerita jadi nggak bertele-tele dan tentunya nggak over budget.
Over all terlepas dari urusan teknis, cerita ini emang "gue banget" .
At least aku menerjemahkan cerita ini dengan caraku.
Cerita "Rahasia" ini mengisahkan tentang pertemuan seorang anak perempuan dan bapak tua di kereta dalam perjalanan dari Jogja menuju Surabaya.
Perjalanan itu menjadi sebuah kesempatan untuk saling mengungkapkan rahasia yang selama ini mereka pendam.
Please watching : "RAHASIA" movie.
Buat aku, setiap orang berhak mempunyai rahasia dalam hidupnya.
Entah itu anak-anak atau orang tua.
mungkin bila dianalogikan seperti kotak hitam di pesawat.
Isinya rekaman dan disimpan. Ruang seperti itu juga ada pada benang-benang syaraf memori di otak .
Kita bisa menyimpannya sampai merasa ingin mengungkapkan kepada orang lain. Atau justru harus menunggu hantaman keras baru bisa dilihat orang lain seperti kotak hitam. wew...
Seandainya semua pikiran bisa ditebak, mungkin kita bisa menemukan banyak cerita unik yg muncul dari apa yang ada dibenak orang.
Sayangnya menjadi tau juga bukan selalu jadi pilihan yang tepat apabila ternyata rahasia yang disimpan bukanlah berita baik.
Rabu, 21 Maret 2012
Memantul
Mereka yang tertindas justru bergerak lebih cepat.
Disinilah takdir bola terjadi.
Semakin keras dilempar ke bawah
maka akan semakin tinggi memantulnya.
Selasa, 20 Maret 2012
Freelancer
Menapaki perkuliahan akhir,
kehidupan bergerombol sepertinya sudah selesai..
Di kampus fisip ini jelas gak ada yang garap skripsi
pake cara kerja kelompok.
Now, akhirnya kebanyakan aku sendirian..
Ngopi sendirian, ngetik sendirian,,
Dulu pas masi jaman kuliah, rasanya rada sebel didikte sama schedule
Ribet banget kalo musti ngatur waktu sama job,
sekarang pas udah dilepasin job-jobnya..
eh kok rasanya aneh ya,
buku organiser yang bisanya penuh jadi sepi…
Hey, tapi aku kan sekarang punya 24 jam kebebasan!
Mau ngapain juga boleh..
Mungkin ini yah yang diidampkan para pekerja kantoran yang banyak lembur…
Ya gak semua sih,
cuman buat mereka yang emang pengen berdiri sendiri,
yang pengen meredeka,
pasti seneng banget kalo waktu berada ditelapak tangannya…
wait, kemerdekaan??
gimana caranya biar merdeka ya?
gini sih, gimana caranya bisa memperjuangkan kemerdekaan
kalau misal yang bener dan salah aja masih bingung..
gimana bisa merdeka kalo misal memanage kemerdekaan aja gak bisa..
terus kalo udah dikasih mau ngapain?
aku sendiri selalu merasa bahwa puncak karier seseorang tu yaaa
pas dia udah bebas menentukan jalan
mungkin sebutanya freelancer,
nggak terikat waktu, nggak terikat kontrak,
tapi bukan tentang kebebasannya doang sih,
seenggaknya mereka bisa punya statement dalam menjalani kebebasannya
mereka bisa memilih project/pekerjaan yang menurut mereka worth it..
bukan stay dikantor buat ngerjain job paketan ampe lembur..
mereka punya selera dan aliran/genre sendiri…
dalam berkreatifitas..
tapi udah siapkah kita?
menanggung beban kemerdekaan itu?
mengatur banyak hal sendirian, mengenai jadwal, mengenai uang..
hari-hari skripsi aja udah lumyan bikin ribet..
mengaduk-aduk hati dan mood…
terus gimana kalo mau jadi freelancer? yang musti move on stiap hari…
atau emang jiwa kita ini masih seperti robot, yang perlu diatur disana-sini
yang tetep harus 9-5 hours office
yang gak bakal kerja kalo gak ada deadline..
yang harus bareng-bareng temen buat fight…
kita emang gak mungkin bisa hidup sendiri,
tapi memperjuangkan kemerdekaan diri emang gak gampang..
apalagi kalau kita masih belum kokoh…
belum bisa tanggung jawab ngebawa diri lebih usefull didalam kehidupan..
memanage kebebasan dengan baik..
dengan bukan sembarangan sibuk,
atau luntang-luntung…
bagaimanapun sistemnya (kantoran/freelancer)
kembali lagi ke diri sendiri…
sejauh mana kita perlu mendapatkan kemerdekaan..
sejauh mana kita memang mampu mempertanggung jawabkannya…
itsn’t easy.. just like doing “SKRIPSI”…
everyday ….
-ditulis pada masa-masa mengerjakan skripsi, lebih banyak tidak sibuk, tidak berkompetisi dengan orang lain, tapi berusaha menaklukan diri sendiri, mencoba membentuk ritme tanpa sistem kelompok-
kehidupan bergerombol sepertinya sudah selesai..
Di kampus fisip ini jelas gak ada yang garap skripsi
pake cara kerja kelompok.
Now, akhirnya kebanyakan aku sendirian..
Ngopi sendirian, ngetik sendirian,,
Dulu pas masi jaman kuliah, rasanya rada sebel didikte sama schedule
Ribet banget kalo musti ngatur waktu sama job,
sekarang pas udah dilepasin job-jobnya..
eh kok rasanya aneh ya,
buku organiser yang bisanya penuh jadi sepi…
Hey, tapi aku kan sekarang punya 24 jam kebebasan!
Mau ngapain juga boleh..
Mungkin ini yah yang diidampkan para pekerja kantoran yang banyak lembur…
Ya gak semua sih,
cuman buat mereka yang emang pengen berdiri sendiri,
yang pengen meredeka,
pasti seneng banget kalo waktu berada ditelapak tangannya…
wait, kemerdekaan??
gimana caranya biar merdeka ya?
gini sih, gimana caranya bisa memperjuangkan kemerdekaan
kalau misal yang bener dan salah aja masih bingung..
gimana bisa merdeka kalo misal memanage kemerdekaan aja gak bisa..
terus kalo udah dikasih mau ngapain?
aku sendiri selalu merasa bahwa puncak karier seseorang tu yaaa
pas dia udah bebas menentukan jalan
mungkin sebutanya freelancer,
nggak terikat waktu, nggak terikat kontrak,
tapi bukan tentang kebebasannya doang sih,
seenggaknya mereka bisa punya statement dalam menjalani kebebasannya
mereka bisa memilih project/pekerjaan yang menurut mereka worth it..
bukan stay dikantor buat ngerjain job paketan ampe lembur..
mereka punya selera dan aliran/genre sendiri…
dalam berkreatifitas..
tapi udah siapkah kita?
menanggung beban kemerdekaan itu?
mengatur banyak hal sendirian, mengenai jadwal, mengenai uang..
hari-hari skripsi aja udah lumyan bikin ribet..
mengaduk-aduk hati dan mood…
terus gimana kalo mau jadi freelancer? yang musti move on stiap hari…
atau emang jiwa kita ini masih seperti robot, yang perlu diatur disana-sini
yang tetep harus 9-5 hours office
yang gak bakal kerja kalo gak ada deadline..
yang harus bareng-bareng temen buat fight…
kita emang gak mungkin bisa hidup sendiri,
tapi memperjuangkan kemerdekaan diri emang gak gampang..
apalagi kalau kita masih belum kokoh…
belum bisa tanggung jawab ngebawa diri lebih usefull didalam kehidupan..
memanage kebebasan dengan baik..
dengan bukan sembarangan sibuk,
atau luntang-luntung…
bagaimanapun sistemnya (kantoran/freelancer)
kembali lagi ke diri sendiri…
sejauh mana kita perlu mendapatkan kemerdekaan..
sejauh mana kita memang mampu mempertanggung jawabkannya…
itsn’t easy.. just like doing “SKRIPSI”…
everyday ….
-ditulis pada masa-masa mengerjakan skripsi, lebih banyak tidak sibuk, tidak berkompetisi dengan orang lain, tapi berusaha menaklukan diri sendiri, mencoba membentuk ritme tanpa sistem kelompok-
Langganan:
Postingan (Atom)